Berkembangnya zaman semakin membiaskan permainan tradisional di kalangan generasi sekarang. Beberapa tahun lalu, jalanan sekitar tempat tinggal kita atau di gang-gang masih ramai dengan anak-anak yang berlarian atau berkumpul hanya sekadar menghabiskan waktu bermain permainan tradisional. Digital membuat generasi sekarang tidak seramai dahulu dan terlihat lebih kasar. Yang diajarkan adalah bagaimana cara menang dan kalah. Bukan berusaha membuat strategi secara nyata, berkomunikasi satu sama lain, hingga mencapai akhir yang memuaskan walaupun itu menang atau kalah. Karena ada usaha nyata di dalamnya dan kerja tim yang baik satu sama lain. Saling memberikan masukan sehingga selalu mencoba untuk menang di permainan selanjutnya.

Sedangkan zaman digital, semua disajikan lebih mudah. Memang permainan digital juga membutuhkan strategi dan kerja sama. Tapi tidak senyata di permainan tradisional yang berjalan linear sesuai dengan kenyataan hidup yang akan dihadapi. Permainan tradisional juga bisa dibilang terapi bagi anak-anak untuk lebih aktif dan melatih mental agar siap menghadapi rintangan yang ada secara spontan.

Festival Lomba Kaulinan Budak Lembur diadakan oleh Pemerintahan Kabupaten Bogor demi melestarikan permainan tradisional yang sudah bias di lingkungan. Dengan mengajak peserta pelajar SMA dan SMP se-Jawa Barat, acara ini diharapkan bisa menggaungkan lagi permainan tradisional agar terciptanya komunikasi yang lebih nyata di sesama pelajar. Bayangkan jika permainan tradisional Gasing, Enggrang, Gegendongan, Dampuk, Gatrik, Babatokan, bahkan Enggrang hidup kembali di tengah-tengah masyarakat yang bahkan lebih seru jika dibandingkan dengan permainan digital.

Diharapkan dengan terus mewariskan permainan tradisional ini, para pelajar bisa lebih bersosialisasi lebih baik dan terus terciptanya gotong royong antar sesama.